10 Tips Menulis Artikel Kuliner [100% Legit]

tips menulis artikel kuliner

Panduan Menulis – Diantara banyaknya niche blog yang bisa dipilih, niche kuliner selalu menjadi primadona di kalangan para blogger. Selain idenya yang tak terbatas, cara penulisan artikel kuliner juga relatif lebih mudah.

Karenanya tak heran jika niche kuliner selalu sejajar dengan wisata, sebab keduanya memang tak bisa dipisahkan. Kemanapun tujuan wisatanya, belum sempurna rasanya bila tak mencicipi kulinernya.

Sayangnya, meski ide menulis terbilang sangat banyak, terkadang masih ada beberapa penulis yang bingung bagaimana menciptakan artikel kuliner yang ‘renyah’ untuk dibaca.

Ingin hati menulis artikel yang bisa mendeskripsikan betapa lezatnya nasi padang. Namun karena teknik penulisan belum dikuasai, alhasil lezatnya nasi padang pun tak tersampaikan ke pembaca. Dengan kata lain, artikel yang ditulis rasanya hambar. Asin pun tidak, pedas pun tidak.

Lantas, kenapa artikel kuliner yang ditulis terasa hambar? Apa saja sebabnya? dan bagaimana cara menulis artikel kuliner yang lezat dan nagih?

Mendewakan SEO

Tips Menulis Artikel Kuliner

Dalam dunia blogging, SEO menjadi komponen penting yang harus dipahami dan diterapkan. Dengan penerapan teknik SEO, artikel yang ditulis membuka potensi untuk mendatangkan trafik organik dari search engine, alias Google.

Sehingga sangat wajar jika mayoritas blogger mendewakan SEO di setiap artikel yang dituliskannya. Semua struktur artikel harus sesuai dengan aturan SEO terbaru. Mulai dari paragraf pertama, sampai penanaman jumlah keyword dalam suatu artikel.

Namun tahukan Anda jika teknik SEO dapat mengganggu sisi psikologis-penulis (the psychology of storytelling) dalam proses penulisan?

Maksud saya, ketika Anda usai mencicipi nasi padang yang super lezat, kemudian Anda ingin menuliskannya di blog, alur menulis Anda tidak akan berjalan secara natural.

Saat proses menulis Anda akan dibenturkan dengan sejumlah aturan SEO yang harus ditaati. Sehingga dari sisi psikologis, Anda harus mengikuti aturan tersebut dan menyingkirkan beberapa ‘taste’ tentang kelezatan nasi Padang yang Anda rasakan.

Berikut simulasi perbedaannya:

  • Artikel Natural

“Suatu kebanggaan hidup saat aku diberi kesempatan menginjakkan kaki di tanah Padang. Tanah yang instagenic dengan panormanya. Tanah yang lezat dengan masakan khasnya, apalagi kalau bukan Nasi Padang.”

  • Artikel SEO

Nasi Padang menjadi makanan yang wajib untuk dicicipi bila kamu berwisata ke tanah Padang. Rasanya yang khas, dan bumbunya yang mengoyak lidah, menjadikan Nasi Padang masuk dalam daftar makanan terfavorit orang Indonesia. Berikut adalah 5 warung nasi Padang terlezat di kota Padang.

Dari 2 contoh di atas, terlihat jelas mana yang mengikutsertakan sisi psikologis-penceritaan, dan mana yang membenturkan ‘taste’ penulis dengan aturan SEO.

Nah, pada tahap ini ada dua pertanyaan yang perlu Anda jawab.

  • Apakah Anda mau menulis menggunakan ‘rasa’ atau ‘taste‘?
  • Atau Anda mau menulis dengan mengikuti aturan SEO?

Jika Anda mampu mengkombinasikan keduanya, berarti Anda MASTAH!

Singkat, Padat & Tidak Jelas

Tips Menulis Artikel Kuliner

Jika saya boleh berpendapat, artikel kuliner yang bagus standarnya dirangkai minimal 800 kata. Di dalamnya memuat sejumlah poin penting yang bisa meng-influence pembaca, yang awalnya kenyang menjadi lapar.

Tapi lagi-lagi tak terhitung jumlahnya artikel kuliner yang ditulis dengan terburu-buru. Singkat, padat dan tidak jelas. Isinya hanya menjelaskan seputar ‘apa makanannya’, ‘dimana tempatnya‘, atau ‘enak apa tidak‘.

Yaps, hanya itu-itu mulu. Bahkan ada beberapa penulis yang lalai mencantumkan harga, nuansa tempatnya, tatanan hidangannya, kalau perlu sampai ke komposisi bumbunya.

Padahal di luar itu ada banyak poin yang semestinya dijelaskan kepada pembaca. Setidaknya dengan membaca satu artikel saja, semua poin yang dibutuhkan pembaca bisa terpenuhi secara komprehensif.

Alhasil, artikel yang Anda tulis menjadi lebih renyah dan nagih!

3 Tips Utama

Ada beberapa tips menulis artikel kuliner yang wajib Anda pahami. Tips yang akan saya bagikan akan menuntun Anda menjadi penulis kuliner yang ‘lezat’ dan bisa membuat pembaca nagih berkali-kali lipat.

Mari kita mulai!

Jadilah Storyteller

Tips Menulis Artikel Kuliner

Sebagian dari Anda pasti ada yang belum mengenal apa itu storytelling. Baiklah, saya akan jelaskan secara singkat definisi storytelling.

Storytelling adalah teknik atau kemampuan dalam bercerita tentang kisah, peristiwa, adegan atau dialog. Storytelling disajikan dengan gaya bahasa yang santui, menyimpan alur dan intonasi yang bersifat komunikatif.

Mengemas artikel dengan gaya storytelling akan memberikan pengalaman tersendiri bagi pembaca. Pembaca tak hanya diajak mengenal makanan yang disediakan, tetapi juga diajak untuk mengenal suasana, aroma, dan racikan setiap bumbu dibalik hidangan yang lezat.

Dalam dunia digital marketing, teknik storytelling menjadi hal yang wajib untuk dimiliki. Teknik ini mampu menjelaskan kepada pembaca secara deskriptif dan juga komunikatif.

Bila teknik ini dikaitkan dengan menulis artikel kuliner, maka Anda diharuskan menulis dengan gaya bercerita. Seolah Anda pernah berkunjung ke tempat tersebut dan merasakan langsung sajian kulinernya.

Dengan begitu artikel Anda akan lebih hidup. Pembaca akan merasakan pengalaman imajinatif berkunjung ke tempat tersebut dan merasakan sajian kuliner yang Anda tulis. Yah, sekalipun kenyataannya belum.

Eits, tunggu dulu. Coba jawab pertanyaan ini:

  • Pernahkah Anda menonton program yang dibawakan Bondan “Maknyus”?
  • Pernah Anda menonton program jalan jalan kuliner di TV?
  • Pernahkah Anda mendengar cerita perjalanan kuliner sahabat Anda?

Jika pernah, pasti perut Anda dibuat keroncongan oleh mereka. Iya kan?

Belum lagi bila mereka menggunakan teknik hyperbola dalam bercerita, biuh, Anda pasti langsung ngiler dan ngidam ingin mencicipi kuliner yang diceritakan.

Nah, seperti itulah seharusnya prinsip menulis artikel kuliner. Setiap paragraf demi paragraf yang Anda tulis menyimpan alur yang mengajak pembaca mengaktifkan sisi imajinatifnya.

Tak cukup sampai di situ, Anda juga perlu mengajak pembaca berbicara, bercakap-cakap atau berdialog. Sehingga artikel Anda lebih komunikatif dan tidak monoton.

Berikut contoh artikel kuliner yang ditulis dengan gaya storytelling.

Lalu bagaimana teknik menulis artikel storytelling yang ajib? Anda bisa membacanya di Panduan Menulis Storytelling yang Ajib!

7 Poin Wajib [Bukan Sunnah]

Tips Menulis Artikel Kuliner

Jika berita memuat 5W + 1 H, maka sama halnya dengan topik kuliner. Ada beberapa poin penting yang perlu Anda perhatikan agar komposisinya pas dan tidak hambar.

Poin-poin ini bagi saya adalah syarat wajib untuk menghidangkan artikel yang berkualitas bagi pembaca. Bila Anda menghilangkan satu bahkan lebih dari beberapa poin ini, sama halnya Anda memasak sayur gulai tanpa santan. Kebayang rasanya?

Okey, mari kita lanjut ke poin-poinnya.

What (Apa)

Layaknya berita, pertama-tama Anda harus menceritakan “Apa” kuliner yang Anda ulas. Poin ini sangat penting dan menjadi pondasi bagi poin-poin berikutnya.

Ketika Anda berhasil meyakinkan pembaca di poin ini, 80% artikel Anda akan dibaca secara keseluruhan.

Nah, salah satu strategi agar pembaca Anda terpikat dengan “Apa” yang sedang Anda bahas, Anda perlu menguasai teknik menciptakan prolog yang efektif.

Tidak perlu bertele-tele, apalagi terlalu kaku. Buat prolog yang santui dan dapat mengajak pembaca sampai akhir. Tonjolkan bahwa kuliner yang Anda bahas penting untuk diketahui pembaca.

Perhatikan contoh berikut

Jalan-jalan ke Kediri kurang pas rasanya bila hanya berkunjung ke spot wisatanya yang super instagenic. Sebelum mengakhiri agenda travel weekly, aku mampir ke salah satu kuliner legendaris di kota Kediri. Sate Siboen namanya.

Sate yang konon menjadi langganan bapak proklamator Indonesia, Ir. Soekarno ini, menyimpan sejarah yang unik. Bukan hanya riwayatnya yang bikin aku penasaran, tapi rasa satenya yang sampai membuat Ir. Soekarno selalu mampir ke depot ini saat berkunjung ke Blitar.

Kira-kira seperti apa sih kelezatan Sate Siboen? Selezat itukah rasanya?

Dari contoh di atas, ada penekanan sejarah, value, yang menjadi bumbu mengapa pembaca harus membaca artikelnya sampai habis.

Dalam hal ini Anda bebas berkreasi menggunakan ‘jurus’ apa saja yang bisa membius pembaca agar tidak berhenti di paragraf pertama. Bisa dari sisi sejarah, kelegendarisan, viral, harga, keunikan, rekomendasi, popularitas, dan lain-lain.

Sampai disini, Anda paham?

Where (Dimana)

Poin selanjutnya, Anda perlu memberitahu pembaca “Dimana” lokasi kuliner tersebut. Tak cukup hanya menuliskan alamat secara lengkap sampai ke RT RW, bahkan nomor kavling.

Anda perlu menjelaskan rute perjalanan dari beberapa titik, kendaraan yang bisa digunakan menuju ke lokasi, bila perlu embed Google Maps agar pembaca lebih dimudahkan.

Perhatikan contoh berikut

Sate langganan Bung Karno ini berlokasi di jalan Panglima Sudirman No.134, Kp. Dalem, Kediri. Bila kamu dari arah Ramayana Kediri, kamu tinggal berjalan lurus kurang lebih 700 meter ke arah Masjid Agung Kediri.

Jika dari arah Alun-Alun Kediri, kamu bisa berjalan ke arah Ramayana Kediri, kurang lebih 3 meteran. Kebetulan rute menuju Sate Siboen hanya 1 jalan dan bisa dilalui dua arah.

Kalau kamu naik kendaraan umum, kamu bisa naik angkot 45 dari terminal Kota Kediri dan berhenti tepat di depan Sate Siboen.

Agar kamu mudah menuju ke lokasi, cek Google Maps di bawah ini.

Yaps, karena ini berhubungan dengan lokasi, sebisa mungkin Anda menjelaskan secara detail titik lokasinya, arah jalan dan kendaraan yang bisa digunakan.

Jangan lupa embed Google Maps sekalian ya.

Menu & Price (Daftar Makanan & Harganya)

Kalau kata Pak Ndul, daftar makanan dan harganya adalah intinya inti, core of the core. Saya menyebutnya sebagai daging, hatinya pohon pisang, alias inti dari semua yang Anda tulis.

Karena poin ini teramat penting, pastinya tugas Anda lebih berat dari dua poin sebelumnya. Anda dituntut untuk menjelaskan apa saja menu yang tersedia beserta harga-harganya.

Kan daftar menu dan harganya bisa difoto, kenapa harus repot-repot menyebutkan semuanya?

Betul, tapi tidak semua kuliner menyediakan daftar menu beserta harganya dalam satu tabel khusus. Tak sedikit jumlahnya spot kuliner yang hanya menyediakan menu tunggal, baik makanan maupun minuman.

Selain itu, gaya penjelasan poin ini juga menyesuaikan tempat yang Anda kunjungi. Kalaulah tempat tersebut menyediakan menu banyak, silahkan ulas secara dominan makanan yang Anda pesan. Selebihnya bisa Anda foto atau tulis secara listing.

Bila sebaliknya, Anda cukup mengulas secara mendetail makanan / menuman yang Anda pesan. Mulai dari sisi penyajian, tampilan luarnya, rasanya, bila perlu sampai ke komposisi bumbunya.

Di titik ini terkadang rasa ‘sok tahu’ bisa menjadi bumbu yang maknyus agar artikel tampil lebih sempurna. Jadilah ‘chef’ dadakan yang ahli dalam menyebutkan racikan bumbu dan sedikit cara memasaknya.

Saya jamin, artikel Anda akan tersaji secara istimewa.

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, selain daftar makanan dan harganya, Anda juga harus menceritakan penyajiannya.

Dari menu yang Anda pesan, apa saja yang tersaji di atas meja. Mulai dari menu utama, minuman, tempat penyajian, lalapan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan makanan tersebut.

Perhatikan contoh berikut

Pada umumnya bumbu pecel menggunakan bahan baku cabai, gula merah, kacang tanah, kencur, bawang merah, bawang putih dan garam.

Berbeda dengan pecel Cirebon. Selain menggunakan racikan tersebut, minus kencur dan sedikit gula merah yang ditambah parutan kelapa menjadikan pecel ini terasa lebih gurih.

Bukan hanya itu, pecel daun semanggi Cirebon sayurannya juga lebih sedikit dibandingkan pecel daerah lain. Sayuran utamanya hanya daun semanggi. Adapun daun bayam, kangkung, pare dan timun hanya sebagai pelengkap.

Untuk menikmati satu pincuk pecel daun semanggi Cirebon kamu cukup merogok kocek Rp3.000 saja. Terjangkau banget bukan?

Yups, dari contoh di atas saya menggunakan gaya deskriptif yang dominan ke komposisi mkanan, bukan ke penyajian hidangan.

Selanjutnya Anda bebas mau mendominankan apa saja. Semua bisa Anda sesuaikan dengan makanan yang Anda ulas. Jika tak memungkinkan membedah secara komposisi, silahkan jelaskan dari sisi penyajiannya.

Taste (Rasa)

Sebetulnya ini tidak wajib, hanya sekedar sunah. Menjelaskan ‘taste’ makanan yang sedang Anda ulas. Syukur-syukur kalau Anda benar mencicipi secara langsung, tapi kalau Anda belum pernah maka salah satu jalan terbaiknya adalah ‘merasa pernah’.

Di tahap ini ada skill khusus yang akan memberikan nilai lebih bila Anda menguasainya. Kosa kata kuliner. Yaps, dengan menguasai kosa kata kuliner, Anda akan mudah dalam menceritakan cita rasa, aroma bahkan menciptakan kosa kata baru layaknya Bondan “Maknyus”.

Berikut beberapa kosa kata kuliner yang bisa Anda serap.

  • Maknyus
  • Legit
  • Mengoyak lidah
  • Aromanya semerbak
  • Meleleh
  • Lumer
  • Menyajikan
  • Menghidangkan
  • dan masih banyak lagi.

Semakin banyak kosa kata kuliner yang Anda kuasai, semakin ahli pula Anda dalam menjelaskan cita rasa suatu makanan.

Satu lagi, sering-seringlah berwisata ke situs kuliner untuk menambah kosa kata baru dan mengamati gaya penyajian mereka. Makin jauh Anda bermain, makin banyak pula pengalaman yang Anda dapat.

Good luck!

Nuance (Nuansa)

Perlu digarisbawahi, ada restoran yang cocok buat berdua, ada juga restoran yang cocok buat rame-rame. Semua tempat kuliner mengusung konsep dan ciri khas masing-masing.

Ada pembaca yang mencari referensi cafe buat kencan, ada pula pembaca yang mencari cafe buat membaca buku di malam Minggu. Oleh karena dia jomblo!

Disinilah pentingnya menjelaskan nuansa kepada pembaca, agar pembaca paham tempat yang Anda ceritakan cocok untuk dua orang atau rame-rame.

Bukan hanya nuansanya saja, tapi dari segi tempat duduk, kondisi tempatnya, juga perlu untuk dituliskan. Sebab ada tempat kuliner yang tak cocok buat cewek yang datang pakai rok mini, misal lesehan. Ada pula tempat kuliner yang nyaman banget bila dinikmati sambil lesehan.

Menyelipkan satu sampai dua foto untuk menambah kesan visual pada artikel juga lebih bagus. Dengan adanya foto Anda tidak perlu repot-repot menjelaskan panjang x lebar tentang kondisi tempatnya.

Mungkin hanya beberapa spot saja yang tak bisa dijangkau dengan foto, misalnya kamar mandiri.

Biar lebih jelas, berikut saya beberkan beberapa poin yang perlu Anda tuliskan untuk menjelaskan nuansa tempat kuliner.

  • Parkiran
  • Kondisi sekitar (cocok ramai-ramai / tidak)
  • Kamar mandi
  • Lesehan / bangku
  • Indoor / outdoor
  • Luas tempat (Ini juga menentukan saat berkunjung kesana)
  • dan seterusnya.

Recommendation (Rekomendasi)

Tahap terakhir yang haram untuk dilewatkan adalah rekomendasi. Yups, sebagus apapun storytelling yang Anda tulis, bila tak ada rekomendasi maka rasanya seperti makan penyet tempe tanpa kerupuk.

Tetap nikmat tapi ada yang kurang gitu. Paham nggak sih?

Ada beberapa alasan kenapa rekomendasi itu penting.

  • Menyesuaikan pembaca

Contoh : Anda mau jalan-jalan kuliner di suatu restoran. Menu yang Anda pesan ternyata cukup pedas. Nah, dari sini Anda bisa merekomendasikan buat pembaca yang punya riwayat lambung / sakit pencernaan agar tidak memesan menu seperti yang Anda pesan.

  • Tidak semua makanan enak

Dalam menulis artikel kuliner Anda wajib jujur. Anda harus mengatakan yang sebenarnya tentang makanan yang Anda ulas. Bila makanan itu kurang enak/sedap/ ada hal-hal lain yang tidak semestinya, Anda wajib mengatakan apa adanya.

Itu asumsinya kalau Anda berkunjung dan merasakan langsung. Kalau tidak? Kembali ke prinsip, ‘merasa pernah’ mencicipinya langsung. Btw, ini rahasia ya!

  • Persiapan pembaca

Maksudnya adalah, Anda perlu menjelaskan beberapa poin yang sifatnya antisipatif. Tujuannya agar pembaca Anda punya persiapan dan mengikuti rekomendasi Anda.

Misal : Anda berkunjung ke resto yang super enak, tapi disana tempat parkirnya kecil. So, rekomendasi terbaik buat pembaca adalah agar tak menggunakan mobil, bila perlu pakai ojek online saja.

Bukan hanya tempat parkir, tapi segala hal yang memungkinkan bisa diantisipasi oleh pembaca. Seperti tempat duduknya sedikit, hanya tersedia beberapa meja, lesehan, cocok buat keluarga, cocok buat nongkrong, jamnya tak dibatasi dan seterusnya.

Foto yang Instagenic

Tips Menulis Artikel Kuliner

Ngobrolin kuliner tanpa foto rasa-rasanya percum tak bergun, alias percuma tak berguna. Foto bakal menjadi kemasan utama setelah judul pada artikel yang Anda tulis.

Melihat fungsi foto sangat sentral, saya sangat merekomendasikan agar Anda mengambil foto yang instagenic. Foto yang mampu mengambil alih perhatian netizen menuju blog Anda, foto yang bisa menggugah selera makan pembaca.

Saya kira saat ini Anda tak perlu risau. Sekalipun Anda tak jago fotografi atau memilih foto Instagenic di Google Images, Anda bisa mengambil foto terbaik di Instagram.

Instagram bisa menjadi aset terbaik Anda untuk menemukan foto terbaik, unik bahkan berkarakter. Tak perlu khawatir soal hak cipta / plagiat, Anda cukup mencantumkan sumber foto dibagian ‘caption images’. Dengan begitu artikel Anda terbebas dari unsur plagiat.

Foto Harus Berkarakter

Ini hanya sekedar tambahan saja. Jika Anda menjadikan Instagram sebagai sumber aset foto, pilihlah foto yang berkarakter, memiliki warna yang sama dan tidak acak adul.

Tapi bila Anda jago desain, ya pasti lebih baik desain sendiri saja.

Sebagai referensi, silahkan cek situs berakal.com

Anda paham kan maksud saya?

Tips Menulis Artikel Kuliner

Sampailah di ujung materi tips menulis artikel kuliner. Cukup panjang, padat dan sedikit bertele-tele. Saya sengaja memberikan banyak keterangan beserta contoh agar Anda paham dengan apa yang saya sampaikan.

Bila ada poin yang menurut Anda belum saya tuliskan, silahkan tambahkan via kolom komentar atau kontak. Next, saya bisa update artikel ini sesuai dengan perkembangan dunia kuliner di internet.

Cukup sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf dan terimakasih.

#JabatErat

4 Replies to “10 Tips Menulis Artikel Kuliner [100% Legit]”

Tinggalkan Balasan