Maya Firdausi Apoteker yang hobi menulis dan memfiksi. Lulusan Profesi Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Karyanya-karyanya sudah tergabung pada 11 antologi cerpen bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie.

Tips Menulis Cerpen ala Duniaku Maya

menulis cerpen ala duniaku maya

Panduan Menulis – Menjadi produktif tidak selalu membutuhkan biaya yang besar. Ambil laptop dan mulailah menarikan jemari di sana. Yah, menulis! Salah satunya, menulis cerita pendek atau populer dengan istilah cerpen.

Cerpen identik dengan genre fiksi, namun sebenarnya ide menulis cerpen tak melulu penuh dengan khayalan. Banyak juga cerpen yang berdasarkan kisah nyata, sebut saja feature.

Saya bukan berasal dari keluarga berliterasi tinggi, namun saya menanam minat pada cerpen sejak masih berseragam putih-biru. Hingga kini minat itu terus ku pupuk sampai saya meraih jas putih gading (apoteker-Red), sehingga saya sudah cukup kenyang dengan lika-liku menulis cerpen.

Percaya nggak kalau menulis cerpen itu mudah-mudah-susah? Saya bukan penulis cerpen full time, namun saya sudah menulis cerpen di 11 antologi dan menjuari tiga kejuaran menulis tingkat nasional.

Manis pahit perjuangan saya di dunia per-cerpen-an sedikit banyak dapat saya formulasikan menjadi sebuah suplemen ‘tips menulis cerpen untuk pemula’.

Tentukan Latar Belakang Menulis

Mengapa saya menulis ini? Apakah hanya sekedar menyalurkan hobi atau ada tujuan jangka panjang, misal akan diikutkan lomba menulis cerpen atau dikirimkan ke penerbit?

Latar belakang yang tersusun rapi akan memberikan dorongan dengan gaya yang cukup besar, sehingga dapat menghindari fenomena writing block alias macet di tengah jalan alias tulisan tidak rampung a.k.a mangkrak.

Latar belakang yang jelas juga dapat menjadi rambu-rambu dalam menulis cerpen, seperti menentukan topik, format penulisan, dan panjang naskah.

Kenali Manfaat Menulis

Seorang editor majalah terkenal pernah mengatakan, “menulislah saat sedih atau kecewa, karena inspirasi akan datang bak air bah”. Yah, cerpen menjadi jalan tol bagi sebagian besar penulis fiksi untuk menyalurkan emosi.

Salah? Tentu tidak! Justru menulis adalah cara pintar menyembuhkan galau. Daripada air mata terbuang sia-sia, mending dijadikan sumber ide cerita, kan?

Kegiatan mengolah kata ini memang tak hanya sekedar menjadi hobi, namun justru dapat dijadikan ladang penghasilan. Tak hanya itu, menulis menyimpan segudang manfaat.

Dari segi kesehatan, beberapa penelitian di Amerika menyebutkan, menulis dapat meningkatkan fokus, memperbaiki mood, mengurangi gejala trauma dan depresi, serta mengurangi rasa nyeri (sakit).

Menulis Cerita Apapun Setiap Hari

Menulis ibaratnya sebuah pisau. Semakin diasah, maka semakin tajam. Bukan rahasia umum, menulis sering dikaitkan dengan bakat. Padahal, ia hanya butuh segenggam minat yang perlu ditanam di sepetak tanah ‘tekad’, kemudian dipupuk dengan ‘semangat’ dan disiram setiap hari dengan ‘berlatih’. Sederhana bukan?

Menjamurnya platform media sosial kian meningkatkan antusiasme menulis. Sebut saja menulis cuitan di Twitter, caption Instagram, hingga paragraf-paragraf panjang blog.

Yups, kalian bisa memanfaatkan media sosial untuk mengasah kemampuan menulis. Kalian juga akan mendapat feed back dari follower yang merupakan sebuah suntikan motivasi tersendiri.  

Bagaimana dengan menulis buku harian (diary)? Tentu boleh. Saya sering membaca manfaat dari menulis diary. Selain bisa melatih kemampuan menulis cerita secara detail dan menyalurkan emosi, buku diary menjelma sebagai harta karun bagi penulis, terutama penulis cerpen based on true story. Karena momen demi momen tersebut terdokumentasi dengan baik di buku diary, sehingga akan memudahkan saat menulis cerpen.

Menggali Inspirasi dari Karya Orang Lain

Yups, inspirasi itu tidak datang dari langit. Kita harus menyelam ke dalam samudra yang berisi ‘ikan, terumbu karang, bahkan bintang laut’ yang diciptakan oleh penulis-penulis ternama. Sebut saja Tere Liye yang piawai memainkan perasaan atau A. Fuadi yang gagah melukiskan harapan.

Percayalah, tak ada ruginya membaca cerpen atau novel karya orang lain. Lihat, betapa banyak penulis yang lahir dari platform Wattpad. Yah, dengan banyak membaca karya orang lain akan menjadi momentum belajar menulis otodidak, bagaimana cara meramu kalimat, membangun karakter tokoh, dan menghidupkan setting.

Menggali inspirasi untuk memperkaya imajinasi, bukan mencuri kesempatan plagiat!

Charge Ilmu dan Bergabung di Grup Kepenulisan

Langkah ini tidak mutlak harus dilakukan, namun jika mau mencobanya, bergabung di grup kepenulisan akan menyuplai berkilo-kilo watt aliran semangat untuk menulis.

Saat SMP, saya pernah bergabung di facebook grup kepenulisan besutan seorang penulis cerpen terkenal. Di sana, penulis kelas kakap maupun kelas teri kerap saling berdiskusi, saling membagi tips dan trik menulis cerpen.

Saat SMA saya bergabung di ekskul jurnalistik dan majalah fakultas saat kuliah. Manfaatnya? Tentu saja, mencegah saya lupa kenikmatan menulis.

Catat Idenya dan Tentukan Deadline!

Sekali lagi, ide datang bisa kapan saja dan dari arah mana saja. Biasanya, setelah membaca cerpen, novel, atau mendengar kisah orang lain, ide kerap menyusup tiba-tiba.

Tangkap! Ambil handphone, catat poin-poin penting di notes, atau jika memungkinkan langsung kembangkan menjadi kerangka karangan.

Jangan biarkan ide itu menumpuk apalagi pergi sia-sia. Saya tipe yang gemar menulis cerpen dikejar deadline alias penulis ‘tahu bulat yang digoreng dadakan’.

Hari itu mendapat ide, hari itu juga menuntaskan satu cerita. Terkadang jika tidak memungkinkan, satu cerpen akan rampung dalam 2-3 hari. Yah, mencegah mangkrak, itulah gunanya deadline.

Buat Cerita yang Unik dan Autentik

Seringkali, kita merasa cerita yang kita tulis sudah pasaran. Wajar. Itulah gunanya koki, meramu makanan yang sudah biasa menjadi luar biasa dan bernilai jual. Setelah merampungkan cerita, lupakan cerita itu.

Buka kembali file atau catatan itu 2-3 hari setelahnya, baca ulang jika sedang mood atau kaya inspirasi. Biasanya akan terlintas untuk menambahi bumbu-bumbu baru, semakin menyedapkan cerpen yang sudah ditulis sebelumnya.

Gunakan keunikan dan kelebihanmu, misal dari segi adat, budaya, suku, negara, kondisi alam tempat tinggal, pekerjaan, bahkan bakatmu yang lain.

Contoh, saya adalah seorang apoteker. Saya memiliki kelebihan yaitu mengetahui tentang obat dan kesehatan, sehingga terkadang sering menyisipkan unsur kesehatan di cerpen saya. Akan tetapi, perlu diingat, gunakan porsi yang pas dan deskripsikan dengan baik, agar pembaca tidak merasa bosan.

Jangan Dibaca Sendiri, Kirimkan!

Ketika masih duduk di bangku SMP, saya adalah fans berat Story Teenlit Magazine, majalah nasional yang khusus berisi cerpen-cerpen pilihan. Saya memberanikan diri mengirim sebuah cerpen di rubrik khusus ‘Cerpen Anak Sekolahan’ majalah Story.

Dua bulan setelah mengirim, redaktur majalah tersebut menelfon saya, mengabari bahwa cerpen saya akan dimuat dan saya berhak mendapatkan royalti sekian rupiah. Yas! Dapat uang, pujian, dan semangat untuk terus menulis!

Ketika SMA, selain aktif di ekskul jurnalistik, saya giat mengikuti event-event menulis di facebook yang diadakan oleh penerbit indie. Siapa sangka, saya bisa tembus di enam antologi dengan tema berbeda, bahkan di salah satu antologi, cerpen saya menjadi juara pertama salah satu event menulis . Lima antologi sisanya saya capai di bangku kuliah.

Yah, cerpen itu jangan dibaca sendiri! Kirimkan!

Percaya Diri Mengikuti Lomba Menulis Gratis

Seperti yang saya ulas sebelumnya, di media sosial banyak sekali lomba menulis gratis dengan prosedur mudah. Tak perlu ragu, ikuti saja! Syukur jika menang, kalah pun tak masalah.

Jangan buru-buru menyerah. Motivasi mengikut lomba bagi saya, selain untuk melatih kemampuan menulis cerpen, juga untuk mendapatkan uang hadiah. Lumayan buat tambahan jajan.

Tabuh genderang perang dengan dirimu! Perang melawan rasa malas, pesimis, dan tidak percaya diri. Semua orang bisa ‘terbang’ ke dunia cerpen, namun hanya orang-orang tertentu yang bisa melebarkan sayap dan bertahan di sana, itulah orang-orang yang berusaha.

Maya Firdausi Apoteker yang hobi menulis dan memfiksi. Lulusan Profesi Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Karyanya-karyanya sudah tergabung pada 11 antologi cerpen bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie.

2 Replies to “Tips Menulis Cerpen ala Duniaku Maya”

  1. Beberapa paragraf awal saya diingatkan 2 hal yaitu perbanyaklah menulis kalau tak bisa perbanyaklah membaca dan bakat itu tak da karena pada dasarnya yang terjadi adalah ala bisa karena biasa.

    Terima kasih semangatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *